Barangkali kamu pernah mendengar kasus ada temen yang pakai jilbab, terus jadi jauh sama ortunya. Atau kamu sendiri mengalami?
Umumnya, beberapa akhirnya mengalahkan keinginannya hanya agar ga perlu ribut sama ortu. Sebagian lagi akhirnya nekat, dan puncaknya diam-diaman, sehingga hubungan keluarga menjadi renggang.
Benarkah ini murni gara-gara jilbab?
Hmm ladies, hubungan apapun mengalami ujian ketika ada masalah. Biasanya, masalah terjadi ketika dua pihak atau lebih berbeda pendapat terhadap sesuatu. Dalam hal ini masalahnya adalah kamu dan ortu memiliki sudut pandang berbeda terhadap jilbab.
Kamu merasa jilbab wajib sebab perintah berjilbab itu sudah jelas, jadi sama sekali bukan sekedar anjuran. Sementara di sisi lain,
ortu, tante, om, atau kakek-nenek merasa belum saatnya bagi kamu untuk berjilbab. Banyak yang akan berdalih bahwa akan ada masa yang tepat bagi kamu untuk pakai jilbab, dan yang jelas, bukan sekarang.
Kalimat kalimat seperti :
"Gapapa ga berjilbab kalau belum mampu, kamu kan masih kecil",
"Gapapa ga berjilbab kalau masih belum selesai sekolah",
"Gapapa ga berjilbab kalau kamu belum kerja",
dan banyak "Gapapa" lain yang murni berasal dari pendapat manusia semata.
Lihat kan, ini murni beda pendapat antara kamu dengan ortu atau pihak keluarga lain, yang kebetulan saja topiknya tentang jilbab.
Beda pendapat ini nantinya akan sering kamu alami dan sebetulnya merupakan hal yang wajar dalam kehidupan sosial. Contoh ketika kamu memilih sekolah atau perguruan tinggi, memutuskan untuk berkarir di bidang ini atau itu, bahkan ketika memilih calon suami.
Intinya, dengan menunda atau mengurungkan niat berjilbabmu, tidak menjamin akan selamanya meniadakan konflik dengan orang tua.
Lalu apa yang harus dilakukan ?
Ladies, berjilbab adalah sepenuhnya urusanmu dengan Allah. Dan ketika kamu memutuskan tidak berjilbab, itu juga sepenuhnya tanggung jawabmu kepada Allah.
Gamblangnya begini,
bukan ortu, tante, om, atau siapa pun yang menanggung akibatnya di mahkamah Allah nanti, tetapi kamu.
(•ˆ⌣ˆ•)